Menjadi Seorang Perantau (My Typical Day)
Tadinya tulisan ini mau focus kepada my tipicaly day, pengen
cerita apa saja kegiatan gabutku sehari-hari. Tapi setelah membuka ms.word dan
mulai ngetik otakku jadi bergeser terpikir untuk menuliskan apa saja kegiatanku
sebagai seorang perantau di kota kecil ini.
Sebagai seorang fresh graduate kita akan disambut oleh
kalimat “selamat datang di dunia sesungguhnya”. Kita juga tidak bisa mengontrol
setiap manusia lainnya untuk tidak kepo terhadap kehidupan kita WKWKWK
Dimana orang akan bertanya “sekarang kerja apa?”
Aku berusaha survive dengan kehidupanku disini. Meski aku lahir di sini (Kota Tarakan) tapi orang tua di Malinau membuatku kapan hari harus pulang menyeruput rindu. Menjadi
seorang perantau juga bukan hal mudah. Tapi ini pilihanku. Tidak juga pengen
nyinyir ketika ada yang bertanya demikian. Aku malah senang. Senang karena aku
bisa melatih kesabaranku. AHAHAHA
Aku hidup dalam sebuah kamar kos yang berukuran 3x3 meter.
Dimana kasur, kipas, tisu, mejikom, lemari, tumpukan buku dan segala barang berkumpul diruang
istimewa tersebut. Tidur, nulis, masak, makan semua kulakukan disini.
Bangun pagi, aku akan mencari stok-stok makanan yang bisa
kuracik menjadi menu sarapanku. Jika yang kulihat roti, aku akan berusaha
membuatnya enak dengan membakarnya menjadi enak dengan margarin diatas
mejikomku. Kalau yang kulihat adalah telur, aku harus ridho sarapan hanya
dengan telur rebus. Itu sudah jadi realita hidup seorang anak kos :D
Setelah sarapan ngapain? Aku biasanya buka medsos sambil
menunggu mood terkumpul untuk menulis blog.
Setelah dzuhur biasanya aku baru memulai aktivitas diluar.
Seperti kehidupan seorang yang bukan perkerja kantoran. Aku biasanya ke secretariat
organisasiku untuk mencari keramaian.
Kalau sedang ada panggilan kerja sebagai notulen. Aku
biasanya pagi sudah ada diacara-acara luar sampai jam 12 siang. Yap! Biasanya
aku bekerja lepas juga sebagai notulen. Untuk gaji, lumayan bisa untuk kupakai
jajan dan loundry selama 2 minggu. Don’t judge me :D
Banyak juga yang nanya kenapa masih di Tarakan rin? Kok nda
pulang?
Alhamdulillah, meski masih stay di Tarakan dalam waktu dekat
memang akan ke Malinau. Ingin bersenda guaru dan merasakan hangatnya sebuah
keluarga.
Alasan belum pulang, karena masih banyak project komunitas,
karena mau berangkat ke desa, masih ada tugas sosialisasi asean awareness dan awal tahun depan akan segera berangkat ke luar
kota. Alahh, sok pejabat sekali saya ya WHAHA
Insha Allah.
Setelah lulus sebenarnya aku mulai merasakan home sick.
Rindu orang tua dan rindu makan sayur. Tapi apa daya. Sementara pulangku belum
bisa lama.
Bedanya anak perantau dengan anak yang tinggal dengan orang
tua itu adalah pola makan dan apa yang dimakan. Makan anak kos akan lebih irit
pastinya. Menu yang itu-itu saja dan waktu makan yang tidak di duga-duga WKWK
Sedang kalau sama orang tua, tinggal buka tudung, makan deh.
Kalo bosan makan rumahan, ngafe deh :D
Hidup memang harus disyukuri. Mau sebagai anak kos. Anak
rumahan atau anak orang. Tetap harus dijalani dan disyukuri.
Menjadi seorang anak kos. Sarjana baru dan jauh dari orang
tua tentu jiwanya harus lebih kuat. Kalau lembek dikit bakal diketawain sama
dinding yang ngeliat.
Harus berani bermimpi. Harus kuat diterjang badai. Harus
tahu mau kemana.
1 yang buat aku selalu belajar membumi “apapun derajat kita
dunia, pakaian terakhir kita tetap kain berwarna putih”
Soo ambisi tidak boleh membuat cacat hati.
Baru-baru ini mau daftar kerja gitu, terus dapat informasi
dari salah satu someone “maaf sudah ada nama yang direkomendasikan”
Aku langsung bilang dalam hati “kenapa ada lowongan kalau
ada nama titipan?”
I cant desrcribe this by words.
I cant desrcribe this by words.
Yasudahlah! WKWKWK
Sarinah punya jalannya sendiri untuk menggapai mimpi. Kalian
juga, kita sama. Kita punya rezekinya
masing-masing.
Tetap jadi manusia yang memanusiakan manusia. "ngomong opo sih rin"
Sepertinya sudah selesai. Sampai nanti dicurhatan
selanjutnya xoxo


Sarinah hebat
ReplyDeleteDoakan bang ya hoho
Delete