Bukan Emot Panda, Aku 15 April yang Sama
Terakhir kali aku menyulam kata di blog ini tepat 5 tahun yang lalu. Hari ini aku datang lagi, bukan karena diingatkan seseorang. Bukan juga karena merasa harus. Aku seketika ingin saja membukanya, beberapa detik ketika ingin memutuskan shut down layarku. Aku rindu sekali. Rindu detak jantung penuh romansa ketika berselancar di blog ini, menulis, mengingat, membayangkan setiap tokoh di dalamnya. Orang-orang yang aku temui 10 sampai 5 tahun yang lalu. Teman, sahabat, rekan, seseorang dan bahkan siapa saja yang kutemui dan kuabadikan dalam cerita. Ternyata dulu aku semeriah itu merayakan setiap detik hidup dan orang yang kutemui.
Kehidupan berjalan, lima tahun lalu dan lima tahun ini terjadi apa saja? ternyata banyak. Mau cerita satu per satu rasanya tidak akan cukup. Apakah masih ada jatuh cinta? ada, apakah 15 aprilku sudah sirna? tidak. Masih ditempat yang sama. 15 aprilku diposisi yang sama. Ia masih layaknya anak sekolah menengah pertama yang curi pandang diam-diam. Menoleh dengan hati-hati dan sembunyi. Anak 15 tahun itu masih dengan layangan yang sama. Tidak berubah warna, tidak usang, hanya saja talinya tidak digenggaman, layang-layang itu sudah bebas terbang. Sesekali aku menemui di langit yang sama dan kadang melihatnya di langit yang berbeda. Dia punya rumah yang manis. Sudah pasti sesuai yang ia mau.
Lalu, 5 tahun ini banyak hal yang masih sama. Aku masih menulis buku. Setelah literasa ada 5 buku lainnya kemudian terbit. Aku juga melanjutkan magisterku. Meski tidak di yogya, dilangit yang pernah kami payungi berdua, setidaknya di suatu kota yang sama-sama tidak menyimpan kenangan antara.
Jakarta. Ya. Aku menapaki pendidikan tinggi keduaku di Jakarta. Aku tetap kejar mimpi yang samar-samar dulu bisa atau tidak kuputuskan.
Tidak mungkin masih ada yang membaca blog ini. Jikapun masih ada yang mengunjunginya, kalian sedang menemui Sarinah yang bukan Sarinah di diluar sana. Cerita disini tidak nyata tapi ada. Tidak ada tapi nyata. Sedang yang kalian temui di jalan, di kafe, di rumah itu, ia adalah seorang yang sesekali jujur dan sesekali mujur. Perempuan yang mengusahakan tidak menyakiti siapapun.
Selain itu apa yang terjadi? Bapak. Orang tuaku satu-satunya. Dia ada, hidup dan bersuka cita. Sesekali dia sakit magh dan asam urat. Tipikal orang tua senja pada umumnya. No interruption. Dengan adanya bapak, dialah yang masih membuatku tidak banyak memutuskan pada hal-hal krusial dalam hidupku. Pikirku dia tua, diujung usia, tidak perlu dulu untuk tahu dan menahu soal keputusan manusia dewasaku. Ada saatnya. Dan biar saja dulu begini.
Anak tunggal dan sandwich generation adalah gelarku sekaligus nasibku. Atau kodrat? entahlah.
Aku banyak membaca. Menulis. Aktif menjadi pembicara. NANTI aka aku tulis itu khusus di lembar berbeda. Ini hanya seuntai cerita pendek saja. Kapan-kapan aku berkabar lagi.
Mungkinkah kau membaca ini? hai, aku tahu kau baik-baik saja. Aku bukan emot panda yang kau maksud, ternyata seambigu itu peranku dinovelmu.
Comments
Post a Comment